Selasa, 10 Januari 2012

Perkembangan Sosial Pada Masa Remaja

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah ”Perkembangan Peserta didik” 
Dosen Pengampu :
Drs, M. Irfan Burhani , M.Psi


Di Susun Oleh:
Miftachul Ngulum : (9321 058 10)
                 Kelas                 :              C                            
                                                                                           
Program Studi Pendidikan Agama Islam
Jurusan Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2011

BAB I
PENDAHULUAN
 
   Remaja adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap remaja dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan sosial diharapkan remaja dapat memahami  proses dalam sosialisasi.
 Perkembangan sosial pada masa remaja berkembang kemampuan untuk memahami orang lain sebagai individu yang unik. Baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat, nilai-nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja untuk bersosialisasi lebih akrab dengan lingkungan sebaya atau lingkungan masyarakat baik melalui persahabatan atau percintaan.
Pada masa remaja ini berkembangan sikap cenderung menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran, keinginan orang lain. Remaja diharapkan memiliki penyesuaian sosial yang tepat dalam arti kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi dan relasi baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Remaja
   1.Pengertian Remaja
          Banyak sekali istilah-istilah yang di gunakan untuk menamai tentang remaja (masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa),dalam bahasa inggris remaja dinamai (puberty),belanda (puberteit),dan latin (pubertas) yang berarti kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda laki-lakian dan kewanitaan.selain itu ada yang menggunakan istilah adulescentio (latin) yaitu masa muda.[1]
            Pengertian tentang remaja, dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia juga banyak, remaja diartikan sebagai usia muda atau mulai dewasa. Dalam usia remaja anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup signifikan dan memerlukan kesiapan mental. Di usia remaja anak mulai mencari dan memahami pribadinya sendiri dan orang lain, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, semua itu mendorongnya untuk bereksperimen dan mencaritahu.
Ada beberapa pengertian remaja secara khusus, antara lain :     
a.Remaja menurut hukum         
            Konsep tentang remaja berasal dari ilmu-ilmu sosial, dan baru muncul setelah era industrialisasi merata di negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya.          
           Di Indonesia dan negara-negara lain belum ada undang-undang yang membahas tentang konsep remaja. Beberapa undang-undang di Indonesia tidak mengenal istilah remaja. Undang-undang kesejahteraan anak ( UU No.4/1979) misalnya, menganggap semua orang di bawah usia 21 tahun dan belum menikah sebagai anak-anak, begitu juga dengan undang-undang yang lain. Oleh sebab itu waktu antara 16 tahun sampai 21 tahun inilah yang dapat disejajarkan dengan pengertian-pengertian “remaja” dalam ilmu-ilmu sosial yang lain.       
b.Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik.          
            Remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik ketika alat-alat kelamin khususnya manusia mencapai kematanganya.Berdasarkan hal di atas yang dimaksud remaja adalah ketika seorang anak mengalami perubahan-perubahan secara fisik. Pertumbuhan dan perubahan fisik sangat nyata pada anak usia remaja, baik laki-laki maupun perempuan.          
   2.Batasan atau kurun waktu masa remaja
          Untuk mengetahui kurun waktu masa remaja itu akan dibahas menurut beberapa ahli.
            L.C.T Bigot, Ph. Kohnstam dan B.G. Palland ahli-ahli psikologi berbangsa belanda pernah mengemukakan pembagian masa remaja sebagai berikut:[2]
  1. Masa pueral berkisar usia 13-14 tahun
  2. Masa prae pubertas berkisar usia 14-15 tahun
  3. Masa pubertas berkisar usia 15-18 tahun
  4. Masa adolescence berkisar usia 18-21 tahun.
            Witherington menggunakan istilah masa adolesensi yang dibagi menjadi dua fase yang disebut:[3]
  1. Preadolesence berkisar usia 12-15 tahun, dan
  2. Late adolescence antara usia 15-18 tahun.
            Demikian juga gilmer juga menyebut masa remaja itu adolesence yang kurun waktunya terdiri dari tiga bagian yaitu:
  1. Praadolesen dalam kurun waktu 10-13 tahun
  2. adolesen awal dalam kurun waktu 13-17 tahun
  3. adolesen akhir dalam kurun waktu 18-21 tahun
            Jersild, at.al., dalam salah satu buku mereka mengatakan rentang usia remaja adalah usia 11 tahun sampai usia 20  awal.Secara kasarnya,masa remaja dapat ditinjau sejak mulainnya seseorang menunjukkan tanda-tanda pubertas dan berlanjut hingga kematangan seksual,telah dicapai tinggi badan secara maksimum dan pertumbuhan mentalnya secara penuh yang dapat diramalkan melalui tes-tes intelegensi.Dengan “pembatasan” semacam itu para ahli lebih lanjut menyebut masa remaja “preadolescence”,early adolescence”, middle and late adolescence”.
While Hurlock use age of puberty term, but he explain that age of puberty is period join with others overlap ,becaue  include cover final yrs.of childhood and yrs. early a period to the following Puberti. a period to the following:[4]
  1. Phase Prapuber       : Women11-13 year  ;Man 14-16 year
  2. Phase Puber            : Woman 13-17 year;Man 14-17 year 6 month
  3. Phase Pasca Puber : Woman 17-21 year;Man 17 year 6 month
  4. -21 year
            Jadi Hurlock membedakan antara wanita dan pria,namun kedua jenis memelukan kurun usia puber selama 4 tahun.
            Berikut pendapat para ahli-ahli Indonesia mengenai batasan seorang remaja:
            Dalam tulisan Ny.Y.Singgih D.Gunarso dan .Singgih D.Gunarso disebutkan baik istilah pubertas maupun adolesensia dipakai dalam arti yang umum.Selanjutnya di tegaskan akan dipakai istilah remaja,tinjauan psikologis yang ditujukan kepada seluruh proses perkembangan remaja dengan batas usia 12 sampai dengan 22 tahun.[5]
            Dr Winarno Surachmad,setelah meninjau banyak literatur luar negeri dan menulis usia 12-22 tahun adalah masa yang mencakup sebagian besar perkembangan remaja.[6]Dra. Susilowindradini beliau menguraian masa remaja dibagi menjadi dua,yaitu: masa remaja akwal-13-17 tahun dan masa remaja akhir 17-21 tahun.[7]
            Kwee Soen Liang SH Membagi masa remaja (puberteit) sebagai berikut:[8]
  1. Prae Puberteit Wanita12-13 tahun ;Pria 13-14 tahun
  2. Puberteit Wanita13-18 tahun ;Pria 14-18 tahun
  3. adolescence Wanita18-21 tahun ;Pria 19-23 tahun
B. Perkembangan Sosial
   1. Pengertian Perkembangan Sosial
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.[9]
Pada dasarnya pribadi manusia tak sanggup taksanggup hidup seorang diri tanpa lingkungan psikis dan rohaniahnya walaupun secara biologis-fisiologis ia dapat mempertahankan dirinya sendiri.[10]
Hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga melakukan tahap perkembangan sosial.Pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. 
   2.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
  Remaja yang dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Mereka belum memahami benar tentang norma-norma sosial yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat menimbulkan hubungan social yang kuarang serasi, karena mereka sukar untuk menerima norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pengembangan hubungan social remaja yang diawali dari lingkungan keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat.
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
1.Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.
           Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.[11]
2. Kematangan Anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula  menentukan.
Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
3. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.[12]
           Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
4.Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan  pendidikan(sekolah).[13]
Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
5.Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan    sosial    anak.
Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
   3.Proses Sosialisasi
          Ada tiga proses sosialisasi yaitu:
  1. Belajar berprilaku yang dapat diterima secara sosial
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang prilaku yang dapat diterima.Untuk dapat bermasyarakat anak tidak hanya harus mengetahui prilaku yang dapat diterima,tetapi mereka juga harus menyesuaikan prilaku dengan patokan yang dapat diterima.
  1. Memainkan peran yang dapat diterima
Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan dituntut untuk dipatuhi.Sebagai contoh,ada yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak serta bagi guru dan murid.
  1. Perkembangan sikap sosial
Untuk bermasyarakat/bergaul dengan baik anak-anak harusmenyukai orang dan aktivitas sosial.Jika mereka dapat melakukannya mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai anggota kelompoksosial tempat mereka menggabungkan diri.
C.Perkembangan Sosial Pada masa remaja  
            Dalam hidup bermasyarakat remaja  dituntut bersosialisasi.Dalam masa Remaja cakrawala interaksi sosial telah meluas dan kompleks.Selain berkomunikasi dengan keluarga juga dengan sekolah dan masyarakat umum yang terdiri atas anak-anak maupun orang dewasa dan teman sebaya pada khususnya.Bersamaan dengan itu remaja mulai memperhatikan mengenai norma-norma yang berlaku serta melakukan penyesuaian diri kedalam lingkungan sosial.[14]
            Pada mulanya saat melakukan interaksi sosial remaja  meninggalkan rumah dan bergaul secara lebih luas dalam lingkungan sosialnya.Pergaulan meluas mulai dari terbentuknya kelompok-kelompok teman sebaya (peer group) sebagai suatu wadah penyesuaian.Didalamnya timbul persahabatan yang merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan.[15]
            Sangat penting dalam pergaulan remaja ini adalah di dalamnya remaja mendapat pengaruh yang kuat dari teman sebaya.Ini dapat dilihat dari remaja yangmengalami perubahan tingkah laku sebagai salah satu usaha penyesuaian.
            Dan dibawah ini merupakan kelompok-kelompok sosial pada remaja:[16]
1.      Kelompok Chums
Yaitu sekelompok individu dengan ikatan persahabatan yang kuat.Jumlah anggota biasanya terdiri atas 2-3 orang dengan jenis kelamin sama,mempunyai minat,kemampuan serta kemauan-kemauan yang hampir  sama.Karena beberapahal yang mirip  itu mereka sangat akrab meskipun dapat terjadi perselisihan,namun secara mudah dapat dilupakan dan akrab lagi.
2.      Kelompok Cliques
Yaitu sekelompok remaja yang biasanya terdiri atas 4-5 orang yang mempunyai minat,kemampuan,dan kemauan yang relatif sama.
Baik Kelompok Chums maupun Kelompok Cliques ini pada mulanya terdiri atas anak-anak remaja awal.Namun pada Kelompok Cliques mulai beralih terdiri atas campuran dan makin kuat bagiremaja akhir.Aktivitas mereka berupa: rekreasi bersama,pesta,nonton film,nonton pameran,saling menelpon dan jenisnya yang menyita waktu dan kadang-kadang merupakan penyebab terjadinya pertentangan dengan orang tua atau orang lain disekitarnya.
3.      Kelompok Crowds
Terdiri atas banyakanggota,berarti terdiri atas sekelompok remaja yang lebih besar dari kelompok cliques.Terdiri atas jenis kelamin campuran baik laki-laki maupun perempuan.Demikian pula kemampuan,minat,dan kemauanya berbeda.Para anggotanya sangat ingin diterima dan mendapat pengakuan crowds itu.
4.      Kelompok yang diorganisir
Umumnya yang mengorganisir kelompok ini adalah orang dewasa.Misalnya organisasi sekolah,yayasan agama dan sebagainya.Orang dewasa membentk organisasi kelompok remaja ini biasanya dengan kesadaran bahwa remaja membutuhkan penyesuaian pribadi dan sosial dalam stu wadah.Keanggotaanya bebas maksudnya mungkin sudah menjadi kelompok persahabatan yang tak terorganisir.
5.      Kelompok Gangs
Keanggotan gangs biasanya berasal  dari kelompok-kelompok yang menolaknya.Berarti mereka gagal ke dalam kelompok karena ditolak,tak puas atau tak dapat menyesuaikan diri.Sesuai dengan keinginan dan kadang-kadang mengganggu atau balas dendam kepada kelompok lain atau terdahulu.Meskipun demikian gangs itu mempunyai corak yang cenderung kalem dan agresif.

Pada usia remaja ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).
Berkat perkembangan sosial anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Hal ini dilakukan agar remaja mempunyai sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan betanggung jawab.
Pada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya).
Perasaan bersahabat merupakan ciri khas dan sifat interaksi remaja dan kelompoknya.[17]Apabila kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan sikap dan perilaku yang secara moral dan agama dapat dipertanggung jawabkan maka kemungkinan besar remaja tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik. Sebaliknya, apabila kelompoknya itu menampilkan sikap dan perilaku yang melecehkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan remaja akan melakukan perilaku seperti kelompoknya tersebut.

BAB III
PENUTUP
          Remaja adalah waktu ketika seorang anak mengalami perubahan-perubahan secara fisik. Pertumbuhan dan perubahan fisik sangat nyata pada anak remaja, baik laki-laki maupun perempuan.misalnya anak laki laki sudah mulai tumbuh kumis dan anak perempuan payudaranya membesar.Dan kurun waktu seseorang diebut remaja adalah sekitar umur 12 sampai 22 tahun.
            Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga melakukan tahap dalam perkembangan sosial.Perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Dalam masa Remaja cakrawala interaksi sosial telah meluas dan kompleks. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam interaksi  sosial. Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
Berkat perkembangan sosial remaja dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya dan juga di lingkungan sekolahnya.Sehingga remaja memiliki kematangan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Rumini, Sri dan Siti Sundari.Perkembangan anak dan remaja.Jakarta:PT Rineka Cipta,2004.
Gerungan, W.A .Psikologi sosial.Bandung:PT Eresco,1998.
Mappiare, Andi.Psikologi Remaja.Surabaya:Usaha Offset Printing,1982.
B.Hurlock, Elizabeth.Child Development(Alih Bahasa:Med. Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih).1978.


[1] Sri Rumini dan Siti Sundari,Perkembangan anak dan remaja(Jakarta:PT Rineka Cipta,2004), 53.
[2] B.Simandjutak,latar belakang kenakalan remaja (Bandung:Alumni,1979), 65.
[3] H.C Witherington,Psikologi pendidikan(alih bahasa:M.Buchori)(Jakarta:Aksara baru,1979)
[4] Elizabeth B.Hurlock,Developmental Psicology(New york:Me Graw Hill Book Company,1968), 12.
[5] Ny.Y.Singgih D.Gunarso dan .Singgih D.Gunarso,Psikologi Remaja (Jakarta:BPK Gunung Mulia,1981), 15-16.
[6] Winarno Surachmad,Psikologi Pemuda (Bandung:Jenmars,1977), 41-44.
[7] Susilowindradini,Psikologi perkembangan II (masa remaja) (Malang:Fakultas ilmu pendidikan IKIP Malang,1981), 1.
[8] Kwee Soen Liang,Masa remaja dan ilmu jiwa pemuda (Bandung:Jenmars,1980), 11.
[9] Elizabeth B.Hurlock,Child Development(Alih Bahasa:Med. Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih),(1978), 250.
[10] W.A Gerungan ,Psikologi sosial (Bandung:PT Eresco,1998),  25.
[11] Ibid, 180
[12] Ibid, 181
[13] Ibid, 192
[14] Ibid, 77
[15] Andi Mappiare,Psikologi Remaja (Surabaya:Usaha Offset Printing,1982), 157.
[16] Elizabeth B.Hurlock;Op.cit, 411-413
[17] Ibid,161

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar